https://talenta.usu.ac.id/politeia/issue/feed Politeia: Jurnal Ilmu Politik 2020-03-27T16:22:27+07:00 Evi Yunita Kurniaty evithalib@gmail.com Open Journal Systems <p><strong>Politeia: Jurnal Ilmu Politik </strong>is a peer-reviewed journal published by Laboratory Department of Political Science based in&nbsp;<a title="Universitas Sumatera Utara" href="http://usu.ac.id/" target="_blank" rel="noopener">Universitas Sumatera Utara</a>&nbsp;(USU).&nbsp;This journal published two times a year in january and july and all papers written in English or Bahasa .The aims of this journal is to provide a venue for academicians, researchers and practitioners for publishing the original research articles or review articles. Politeia is available in print and online version.</p> <p>ISSN number of this journal is:</p> <p>ISSN <a title="ISSN Politeia" href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1484814247&amp;226&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">0216-9290</a> (Printed)</p> <p>ISSN <a title="ISSN Politeia" href="http://www.issn.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1484814247&amp;226&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">2549-175X</a>&nbsp;(Online).</p> <p><strong>Politeia: Jurnal Ilmu Politik</strong>, for the first time published in June 2008 in printed form, and published two times a year in January and July. At that time, Politeia: Jurnal Ilmu Politik had five print volumes (ten numbers/issue) and then It was only registered for its print issue on January 19, 2012.</p> <p><strong>Back issues of Politeia: Jurnal Ilmu Politik can be seen on this <a title="archive" href="https://jurnal.usu.ac.id/index.php/politeia/issue/archive" target="_blank" rel="noopener">link</a>.</strong></p> <p>The scope of the articles published in this journal deal with a broad range of topics in the fields of&nbsp;power,&nbsp;politics,&nbsp;election,&nbsp;conflict,&nbsp;policy, thought, democracy, and another section related contemporary issues in&nbsp;political science.</p> <p><strong>Indexed by:&nbsp;<a title="Portal Garuda" href="http://garuda.ristekdikti.go.id/journal/view/10948" target="_blank" rel="noopener">Portal Garuda</a>,&nbsp;<a title="Google Scholar" href="https://scholar.google.com/citations?user=p-FlX00AAAAJ&amp;hl=en" target="_blank" rel="noopener">Google Scholar</a>,&nbsp;<a title="PKPIndex" href="http://index.pkp.sfu.ca/index.php/browse/index/3148" target="_blank" rel="noopener">PKPIndex</a>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Politeia: Jurnal Ilmu Politik</strong> is published twice a year in January and July</p> <p><strong>Back issues of Politeia: Jurnal Ilmu Politik can be seen on this <a title="archive" href="https://jurnal.usu.ac.id/index.php/politeia/issue/archive" target="_blank" rel="noopener">link</a>.</strong>&nbsp;</p> https://talenta.usu.ac.id/politeia/article/view/3170 Mencermati Populisme Prabowo Sebagai Bentuk Gaya Diskursif Saat Kampanye Politik Pada Pemilihan Presiden 2019 2020-01-30T15:57:20+07:00 Alwi Dahlan Ritonga alwiedahlan@gmail.com <p>Penelitian ini mengkaji tentang penggunaan&nbsp; populisme&nbsp; sebagai gaya diskursif salah satu calon presiden pada Pemilu 2019 di Indonesia yaitu Prabowo Subianto. Fenomena global yang menunjukkan munculnya kemenangan pemimpin-pemimpin populis di hampir seluruh dunia ternyata membuat Prabowo juga tertarik untuk memainkan gaya kepemimpinan populis untuk meraup simpati masyarakat. Prabowo memainkan isu populis ketika melakukan kampanye politik sebagai gaya diskursif. Retorika yang dilakukan oleh Prabowo ketika berkampanye sangat sarat dengan isu-isu populistik. Penelitian ini membuktikan bahwa Prabowo Subianto menggunakan isu populisme sebagai gaya diskurif ketika berkampanye pada saat pemilu. Peneliti akan melakukan analisis dengan mengacu pada teori Cas Mudde (2007) yang mengemukakan karakteristik dari populisme terwujud dalam tiga ciri yaitu anti – kemapanan (<em>anti-establishment</em>) atau anti elit, otoriterisme, dan nativisme. Objek penelitian ini akan terfokus pada Prabowo sebagai aktor politik yang sedang memainkan isu populisme sebagai gaya diskursif dengan mencermati konten-konten yang ia sampaikan ketika berkampanye. Teknik pengumpulan data akan menggunakan data-data sekunder berupa surat kabar, media cetak maupun kanal berita elektronik serta bahan lain yang mendukung penelitian. Data-data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif.</p> <p>&nbsp;</p> 2020-01-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Politeia: Jurnal Ilmu Politik https://talenta.usu.ac.id/politeia/article/view/2883 Friksi Politik-Agama Dalam Kontestasi Elektoral Pilkada DKI Jakarta 2017-2022 : Studi Atas Pembentukan Jejaring Konstituen Anies-Sandi 2020-01-30T15:57:27+07:00 Sofyan Sawri betasofyan.matraindonesia@gmail.com <p>Studi ini mempelajari mengenai friksi politik dan agama dalam kontestasi pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta menjadi momentum politik nasional yang mendeskripsikan fenomena menarik. Mempelajari tentang kemengan Anies-Sandi pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari faktor agama. Adapun permasalahan yang diteliti dalam studi ini, yang pertama adalah friksi politik yang melibatkan isu Agama dan kelompok-kelompok Agama Islam yang membawa dampak signifikan terhadap proses pemenangan Anies-Sandi. Kemudian pembentukan simpul dan jaringan akibat dari rentetan demonstrasi politik identitas dan menjadikan superioritas identitas Agama dalam politik praktis. Teori untuk menganalisis permasalahan tersebut ada dua yaitu teori jaringan politik dan teori strategi politik. Metode penelitiannya adalah kualitatif dengan sifat penelitian yang berbentuk deskriptif-analisis dan data-data bersumber dari data primer dan sekunder. Dari analisis data terlihat bahwa temuan yang <em>pertama</em> adalah kemenangan Anies-Sandi disebabkan oleh friksi aktor politik yang dibentuk oleh jejaring Anies-Sandi dan menguatnya populisme Islam. K<em>edua</em><em>,</em> yaitu kampanye Anies-Sandi yang menawarkan kebijakan pro rakyat seperti program Oke Oce dan penolakan reklamasi serta penggusuran rumah rakyat dan berhasil membuat hati pemilih milenial dan masyarakat bawah lebih tertarik. Dan Kemenangan Anies-Sandi pada putaran kedua tidak bisa dilepaskan dari adanya limpahan suara dari pasangan nomor urut satu yaitu Agus-Silvi.</p> 2020-01-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Politeia: Jurnal Ilmu Politik https://talenta.usu.ac.id/politeia/article/view/3301 analisis Konflik dan Resolusi (Studi Kasus : Rekrutmen Perangkat Desa di Kabupaten Demak Tahun 2017-2018) 2020-01-30T15:57:34+07:00 Saipul bahri saipulbahri@politeiausu.ac.id <p>Studi &nbsp;ini adalah studi tentang resolusi konflik yang terjadi pada proses rekrutmen Perangkat Desa di Kabupaten Demak dengan rentang waktu Tahun 2017-2018. Fokusnya membahas tentang&nbsp; bagaimana politik hukum dan implementasi kebijakan rekrutmen perangkat desa di Kabupaten Demak, kemudian pada tataran konfliknya (sumber, manivestasi, dan durasi) Rekrutmen Perangkat Desa &nbsp;di Kabupaten Demak, serta Resolusi konflik yang sesuai terhadap persoalan yang dimunculkan dalam studi kasus ini. Temuan studi ini antara lain terdapat upaya penyalahgunaan wewenang pada saat perumusan dan implementasi kebijakan rekrutmen perangkat desa. Kemudian pada taran konflik pasca analisis muncul jika sebabnya karena penghilangan pasal dalam perda, dalam hal manivestasi muncul berbagai demonstrasi dan gugatan di PTUN terkait seleksi perangkat desa. Resolusi yang digunakan yang sesuai adalah 6 metode, seperti yang dikemukakan oleh Forsyth.&nbsp; Metode penelitian yang digunakan adalah mixed method dengan kualitatif lebih dominan.</p> 2020-01-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Politeia: Jurnal Ilmu Politik https://talenta.usu.ac.id/politeia/article/view/3270 Dampak Dampak Kegagalan Kudeta Militer Turki Tahun 2016 Terdahap Politik di Turki 2020-01-30T15:57:38+07:00 Kurniasari Sri Kurniaram7@gmail.com Adil Arifin rifin83@yahoo.com <p>Pada 15 Juli 2016, terjadi sebuah peristiwa Kudeta Militer di Turki untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Walaupun kudeta tersebut gagal, tentu bukan suatu keuntungan bagi Turki, yang mana pemerintah tengah berupaya meningkatkan kestabilan politik, ekonomi dan sosial di Turki. Tulisan ini mengkaji bagaimana dampak kudeta militer Turki tahun 2016 terhadap politik Turki dengan memusatkan kajian dampaknya terhadap politik domestik di Turki. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Hasil analisis tulisan ini mendeskripsikan bahwa kudeta tersebut memberikan dampak pada: <em>Pertama</em>, hubungan Pemerintah dengan partai-partai oposisi. <em>Kedua, </em>budaya politik demokratis Turki. <em>Ketiga, </em>kebijakan politik dalam negeri dan <em>Keempat, </em>birokrasi militer</p> 2020-01-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Politeia: Jurnal Ilmu Politik https://talenta.usu.ac.id/politeia/article/view/3302 From Electocracy to Democracy: Coalition, Cohesion, and Function 2020-03-27T16:22:27+07:00 Kartini Khalid kartinikhalid@politeia.usu.ac.id <p>Generally, democracy composes the elements of election, rights and liberty, middle class, and the rules of law to govern the state and people. Malaysia had limited experience of a democracy that was absent from the elements above. It had its first election during the colonial era that dictates the function of an election.&nbsp; Later, the election becomes routine every five years that makes it an electocracy or a political culture lacks political literacy. The post-independence context of a strong leader and a dominant party alliance to rule the state and society resulted in making political analysts criticizing Malaysia as a state of the quasi, semi, and syncretic democracy. The recent power transition with no record of violence in Fourteen General Election (2018) proves that the previous label of democracy in Malaysia is obsolete. Therefore, the analysis tool of assessing Malaysian politics is still dormant with the Western perspective of the two-party system, the end of racial politics hence assuming the beginning of an ideology-based party and the belief that the new Malaysia will fit in the western mold of democracy. The robust information technology via social media harvesting new challenges for democracy in Malaysia. It cannot escape the spread of fake news or disinformation to influence voters. The game of fake news has put Malaysia as a state of electocracy full of unskilled politicians to govern the multiethnic nation.</p> 2020-01-30T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Politeia: Jurnal Ilmu Politik