Dialog Hegemonik: Analisis Wacana Kritis atas Relasi Kuasa dalam Pertemuan Presiden Prabowo dengan Pemimpin Media
DOI:
https://doi.org/10.32734/politeia.v18i1.21867Keywords:
Analisis Wacana Kritis, Elite Media, Hegemoni, Prabowo Subianto, Wacana KekuasaanAbstract
Penelitian ini menganalisis praktik wacana kekuasaan dalam pertemuan dialogis antara Presiden terpilih Prabowo Subianto dengan enam pemimpin redaksi media nasional. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dilakukan dengan pendekatan studi pustaka (library research). Analisis dikaukan Analisis Wacana Kritis model tiga dimensi Norman Fairclough (teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural) untuk mengetahui bagaimana kekuasaan dikonstruksikan dan direproduksi melalui bahasa dalam forum yang diklaim terbuka tanpa sensor. Hasil analisis pada dimensi teks menunjukkan penggunaan diksi populis, humor sebagai strategi pemanusiawian, dan klaim otoritas epistemik untuk membangun citra pemimpin yang merakyat dan kompeten. Pada dimensi praktik wacana, terungkap bahwa format dialog yang asimetris memungkinkan Prabowo mengendalikan agenda dan menetralkan pertanyaan kritis, sementara media berfungsi sebagai ko-produser wacana dominan. Dimensi praktik sosiokultural menunjukkan bahwa pertemuan ini berfungsi sebagai perisai dialogis untuk meredam kritik publik, sebagai arena reposisi identitas politik Prabowo dari figur militer ke negarawan sipil, dan mereproduksi relasi hegemonik antara elite politik dan elite media. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana pertemuan tersebut bersifat hegemonik, bukan dialogis-simetris. Bahasa secara strategis digunakan untuk menata ulang legitimasi kekuasaan di balik fasad keterbukaan, yang berimplikasi pada risiko tergantinya demokrasi deliberatif oleh dialog simbolik yang terkendali.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Politeia: Jurnal Ilmu Politik

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












